It is my very bery #first #nicehomework di kelas matrikulasi institut ibu profesional batch III di Wilayah Bogor 2. Perasaannya? Campur aduk. Belum jadi ibu, apa bisa ikutan kelas ini? Lantas teringat akan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Kajian pertama di kelas matrikulasi IIP Batch 3 ini adalah Adab menuntut ilmu. Seberapa besarkah urgensinya? Amat penting. Bisa dibayangkan kah bagaimana rupanya beramal tanpa ilmu? Apalagi jika berilmu tapi tak beradab? Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Setelah diberikan materi dan diskusi mengenai tema tersebut, maka inilah “oleh-oleh” yg diberikan untuk ibu (daa abdi mah masih calon ibu yah) profesional di pertemuan 1/9.
- Menentukan satu jenis ilmu yg akan saya tekuni di universitas kehidupan, universitas yg notabene lulusannya akan bergelar almarhum dan almarhumah. Mendambakan penutup yg husnul khatimah. Bukankah seorang hamba akan diwafatkan dalam apa yg dicintainya? Salah satu yg saya cintai adalah berniaga (bermuamalah). Maka saya ingin berniaga dengan baik.
- Alasan terkuat bagi saya dalam menekuni ilmu fiqh muamalah adalah dimulai dari dasar hukum dalam fiqh muamalah yaitu : semua hal boleh, kecuali jika ada larangan bagi Allah. Maka tentu, yg HALAL jauuuuh lebih banyak dibanding yg HARAM. Coba diingat-ingat kembali betapa amat dekatnya hari-hari kita dengan transaksi jual beli? Utang-piutang (at least kredit panci misal hihi), atau jaman sekarang dimana beli barang bisa hanya via “online”.Berapa banyak pedagang yang menjual dengan jujur, tidak mengurangi timbangan, atau berapa banyak kita sebagai pembeli membeli dengan ihsan, memahami hak khiyar bagi penjual dan pembeli, meminimalisir assymetric information, atau tentang kredit panci dimana harga cash beda sama kredit? Riba kah? Atau saat mau dagang tapi ga punya dana, bolehkah sistem dropship? Halal kah? Haram kah? Duh, setelah saya resign dari perbankan, ternyata saya sebagai IRT gini kok ya malah tambah perlu banyak banget belajar lagi. Maunya dicukupkan dengan yg halal saja, digunakan dicara yg halal saja, untuk barang dan jasa halal juga.. Biar Allah ridho atas segala usaha kita, ya saat jadi penjual, ya saat jd pembeli.
- Strategi menuntut ilmu yg sedang saya rencanakan dalam bidang tersebut? Salah satunya, kuliah. Diamanahkan beasiswa oleh pak Syafii Antonio (hatur nuhun pisan ya ayahanda) ini insyaAllah bukan jadi beban, tapi peluang agar ilmunya semakin luas, dan semakin manfaat untuk banyak orang. Pohon yg indah itu rindang dan meneduhkan kan? Bukan yg menjulang tinggi lalu jegerrrr kesamber petir. Selain itu mengisi waktu dengan kajian-kajian dari Dr Erwandi yg ilmunya masyaAllah. Berangkat dari “bekal” yg diberikan oleh beliau beliau maka barulah berani untuk buka lapak. Sambil nyelipin transaksi murabahah murni,dimana pembeli tau harga dasar dari barang yg kita jual. Ada akad salam dan istishna’ dimana pembeli bisa memesan barang terlebih dahulu. Dan lain-lain yg masih sering berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari.Atau membuka forum diskusi tanya jawab dengan rekan-rekan sesama pedagang. Baca buku juga salah satu cara menambah pengetahuan agar semakin jelas “pagar” yg harus saya taati.
Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut? Yg pertama adalah meluruskan niat, andai dijalan “belok” inget lagi untuk tajdidun niat. Kemudian,hadir di awal majlis. Diusahakan untuk hadir lebih awal dibanding asaatidz wa asaatidzah. Menghormati guru, bahkan kawan yg berbeda pendapat saat menuntut ilmu karena boleh jadi ilmu yg disampaikan adalah benar. Bersungguh dalam menerima ilmu, anggap gelas kosong yg tiada bosan untuk diisi dengan tetesan ilmu. Meletakkan buku di tempat yg baik, bukunya pun kudu asli yaa jangan yg bajakan hihihi. Karena keridhaan penulis si empunya ilmu pun mempengaruhi keberkahan ilmu yg didapatkan.
Wallahu a’lam bish shawaab. Apapun yg benar datang dari Allah sedangkan alfa khilaf dan salah adalah dari diri saya sendiri.
Ahad, 29 Januari 2017 #latepost
Comments
Post a Comment